Artikel_4

‘Silent Spreader’, Penyebar Virus Corona yang Tidak Menyadari Telah Terinfeksi

Ada hal menarik yang diungkap oleh ilmuwan tentang virus corona yang menyebar dengan begitu cepat sehingga sulit untuk dikendalikan. Kebanyakan orang tidak tahu jika mereka sebenarnya telah terinfeksi karena sebagian besar hanya menunjukan gejala ringan, atau bahkan tidak mengalami gejala apapun. Mereka ini kemudian dikenal dengan ‘silent spreader’.

Silent spreader tidak tahu jika mereka menularkan virus sehingga tetap ‘melanjutkan penyebaran virus’ sambil melakukan tugas di kantor, sekolah dan aktivitas lain. Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science pun menemukan bahwa 86 persen dari semua infeksi yang terjadi sebelum Cina melakukan pembatasan traveling yang ekstrim pada akhir Januari tidak terdokumentasi, alias ‘pelaku’ silent spreader.

Salah satu peneliti, Jeffrey Shaman, yang juga profesor ilmu kesehatan lingkungan di Columbia University Mailman School of Public Health, mengatakan bila silent spreader yang mereka lihat memiliki gejala ringan seperti sakit tenggorokan, kedinginan, atau pegal-pegal. Namun, gejala ini tidak memperlambat pergerakan mereka.

Barangkali, para silent spreader ini pernah mengalami gejala tersebut dan dianggap penyakit ringan dan merasa tidak perlu tinggal di rumah, tetap menggunakan alat transportasi umum, pergi bekerja, pergi ke sekolah, naik pesawat, atau melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Pada akhirnya, peneliti menemukan bahwa orang-orang dengan infeksi yang tak terdokumentasi ini berkontribusi pada cepatnya penyebaran virus corona.

Tidak mengherankan jika pada akhirnya peneliti menemukan fakta jika cepatnya penyebaran virus corona disebabkan oleh keberadaan silent spreader yang tidak terdeteksi. Dengan jumlah 86 persen orang yang terinfeksi namun tak terdokumentasi, ini berarti bahwa sebagian besar dari mereka masuk pada kategori simptomologi ringan dan masih saja terus melakukan traveling kesana-kemari.

Peneliti juga menemukan bahwa bila dilihat per orang, kurang dari setengah para silent spreader mudah menularkan virus corona, dibandingkan dengan orang-orang yang dirawat di rumah sakit, atau mencari perawatan klinis. Ini tentu saja menjadi fakta yang mengejutkan. Apalagi silent spreader ini tetap keluar dan berkumpul bersama komunitas mereka hingga ‘sukses’ menyebarkan virus tanpa disadari.

Pada akhirnya, komunitas dari orang yang silent spreader temui membentuk rantai transmisi, di mana ini semakin membuat banyak orang terinfeksi dan mereka pun makin menginfeksi banyak orang. Sebagian besar infeksi tersebut, faktanya, ringan dan kabar buruknya adalah mereka termasuk orang yang cenderung tidak akan pergi ke dokter untuk mencari bantuan medis.

Bagi sebagian orang, gejala sakit tersebut dianggap biasa karena gejalanya hampir mirip dengan jenis virus musiman yang selama ini beredar, seperti influenza. Dengan mayoritas penderita yang terinfeksi dan tidak terdokumentasi, dan saat silent spreader merasa tidak perlu pergi ke dokter dan masih pergi ke luar rumah untuk berinteraksi dengan orang lain, tidak mengherankan jika orang lain yang berinteraksi dengannya akan tertular.

Lalu, apa yang perlu dilakukan untuk memerangi silent spreader? Sebenarnya ini telah dilakukan di Cina, yaitu saat mereka menerapkan aturan ketat untuk mengatur masyarakat di Wuhan. Pemerintah setempat pada dasarnya membatasi perjalanan dan aktivitas apapun dengan menutup sekolah dan bisnis, serta mewajibkan semua orang untuk tetap tinggal di rumah.

Tidak hanya itu, pemerintah setempat juga menegakan aturan secara paksa dan bahkan melakukan pelacakan kontak. Penerapan aturan yang agresif ini pun dapat memetakan di mana orang-orang yang terinfeksi dan mewajibkan mereka untuk melakukan karantina mandiri. Bahkan, silent spreader ini diminta untuk memberi tahu dengan siapa saja mereka berinteraksi. Dengan cara seperti ini, penyebaran virus corona pun dapat dibatasi secara optimal.

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *